BERITAASPIRASI --(GARUT — Memasuki usia ke-48 tahun, Keluarga Besar Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI) Kota Bandung tidak sekadar memperingati hari ulang tahun melalui kegiatan seremonial.
Momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang refleksi untuk mengenang sejarah perjuangan, mempererat tali persaudaraan, sekaligus meneguhkan kembali komitmen organisasi dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan semangat bela negara.
Peringatan HUT ke-48 FKPPI Kota Bandung digelar di kawasan Alamanda Beach, Pantai Santolo, Kabupaten Garut, pada 12–13 September 2026. Kegiatan diisi dengan camping, malam kontemplasi, api unggun, serta berbagai kegiatan kebersamaan dan sosial.
Mengusung tema “Transformasi Menuju FKPPI Modern: Sinergi Dalam Bela Negara Mewujudkan Daulat Bangsa”, kegiatan tersebut diikuti para ketua rayon, jajaran pengurus dan anggota FKPPI se-Kota Bandung, jajaran Pengurus Cabang 10.09 FKPPI Kota Bandung, serta perwakilan biker FKPPI PD X Keluarga Besar FKPPI Jawa Barat.
API UNGGUN, SIMBOL SEMANGAT PERJUANGAN
Ketua PC 10.09 Keluarga Besar FKPPI Kota Bandung, Adde Mararif, SE, menegaskan bahwa peringatan HUT ke-48 harus menjadi momentum untuk melihat perjalanan organisasi secara utuh sekaligus membaca tantangan bangsa di masa mendatang.
Menurutnya, malam kontemplasi dan api unggun bukan sekadar kegiatan kebersamaan, melainkan memiliki makna mendalam bagi seluruh keluarga besar FKPPI.
Api unggun menjadi simbol kobaran semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu FKPPI, khususnya nilai-nilai perjuangan yang lahir dari pengabdian TNI dan Polri.
Di tengah kobaran api, seluruh anggota duduk bersama tanpa sekat. Suasana tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan dapat dilebur dalam satu semangat kekeluargaan, solidaritas, persatuan, serta kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Memasuki usia ke-48, FKPPI tidak boleh hanya terjebak pada nostalgia masa lalu. Latar belakang sebagai putra-putri purnawirawan dan TNI-Polri harus diterjemahkan menjadi kekuatan nyata untuk bangsa,” tegas Adde Mararif dalam refleksi perjalanan organisasi.
DARI SWA DHARMA EKA KERTA MENUJU FKPPI MODERN
Perjalanan FKPPI tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang organisasi yang berdiri pada 12 September 1978, dengan semangat “Swa Dharma Eka Kerta.”
Pembentukan FKPPI diumumkan dan disahkan melalui SK Pengurus Besar PEPABRI bertepatan dengan momentum ulang tahun PEPABRI. Seiring perjalanan waktu, kepengurusan FKPPI berkembang hingga tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan.
Perjalanan organisasi memasuki babak baru melalui Musyawarah Luar Biasa pada 12 September 1995, yang melahirkan Generasi Muda FKPPI sebagai organisasi kepemudaan. Sementara itu, FKPPI menjadi organisasi kemasyarakatan bagi anggota yang berusia lebih dari 40 tahun.
Babak penting berikutnya terjadi melalui Musyawarah Nasional VIII pada 27 Maret 2015, yang menghasilkan peleburan Generasi Muda FKPPI dan FKPPI menjadi Keluarga Besar FKPPI.
Kini, memasuki usia 48 tahun, tantangan organisasi semakin kompleks. FKPPI dituntut bukan hanya mempertahankan identitas dan nilai sejarah, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Modernisasi organisasi, peningkatan kompetensi kader, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan aktif dalam pembangunan menjadi bagian penting dari refleksi perjalanan organisasi.
TAK HANYA API UNGGUN
Rangkaian HUT ke-48 FKPPI Kota Bandung juga diisi dengan berbagai kegiatan kebersamaan dan sosial.
Setelah malam kontemplasi dan api unggun, kegiatan dilanjutkan dengan salat Subuh, olahraga Zumba berhadiah doorprize, sarapan bersama, permainan sepak bola dan voli ala pantai, serta berbagai aktivitas kebersamaan di kawasan Pantai Santolo.
Kegiatan sosial juga menjadi bagian penting dalam peringatan tersebut. Di antaranya penyerahan Al-Qur'an kepada masjid atau pondok pesantren, anjangsana berupa silaturahmi dan bantuan, serta doa bersama untuk para pejuang dan pahlawan.
(red***)
0 Komentar