Diskarmatan Bandung Ajak Warga Bangun Budaya Cegah Kebakaran Sejak Dini
BERITAASPIRASI 20 oktober 2026
BERITAASPIRASI – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung mendorong masyarakat membangun budaya pencegahan kebakaran melalui edukasi, penguatan relawan, dan peningkatan kesadaran terhadap potensi bahaya di lingkungan masing-masing.
Kepala Bidang Pencegahan Diskarmatan Kota Bandung, Adhli Al Afwan Izwar, menegaskan bahwa upaya melindungi masyarakat dari kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam ketika keadaan darurat terjadi. Pencegahan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari dan kemampuan warga mengenali risiko sejak dini.
“Selama ini kalau melihat atau mendengar tentang pemadam kebakaran, konteksnya lebih kepada memadamkan api. Sekarang kami ingin mengubah paradigma bahwa pemadam kebakaran seharusnya hadir sebelum permasalahan kebakaran terjadi. Itulah tujuan kami di bidang pencegahan,” ujar Adhli di Mako Diskarmatan Kota Bandung, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurutnya, kebakaran dapat dipicu oleh berbagai hal sederhana, seperti meninggalkan kompor saat memasak, menggunakan selang atau regulator gas yang tidak layak, hingga mengabaikan instalasi listrik yang bermasalah.
Karena itu, Diskarmatan mengintensifkan edukasi kepada masyarakat, mulai dari anak-anak PAUD, TK, dan SD hingga kelompok masyarakat umum. Edukasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman tentang potensi bahaya, langkah pencegahan, serta tindakan yang tepat ketika kebakaran terjadi.
“Kami mengajak masyarakat untuk memperhatikan potensi-potensi risiko kebakaran yang ada di wilayah dan lingkungannya, terutama rumah. Misalnya, aktivitas memasak yang berpotensi menimbulkan kebakaran apabila ditinggalkan, selang gas yang kurang layak, serta masalah kelistrikan,” kata Adhli.
Selain masyarakat, Diskarmatan juga mendorong dunia usaha, khususnya pengelola gedung bertingkat, untuk memperkuat sistem keselamatan kebakaran. Upaya tersebut mencakup pemeriksaan rutin sarana proteksi kebakaran, penyediaan jalur evakuasi, serta pembagian tugas yang jelas bagi petugas atau tim internal saat keadaan darurat.
Adhli mengakui, membangun kesadaran pencegahan di seluruh wilayah Kota Bandung menjadi tantangan tersendiri. Dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa, kebutuhan ideal personel pemadam kebakaran diperkirakan mencapai 500 orang, berdasarkan rasio satu petugas untuk setiap 5.000 penduduk. Sementara itu, jumlah personel yang tersedia saat wawancara sekitar 300 orang.
Kondisi tersebut membuat keterlibatan masyarakat menjadi semakin penting. Salah satu upaya yang dikembangkan adalah pembentukan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) untuk membantu memberikan edukasi, memetakan potensi bahaya, serta memeriksa sarana dan prasarana kebakaran di lingkungan masing-masing.
Diskarmatan juga mengembangkan pendekatan berbasis kewilayahan dengan menempatkan satu personel penghubung di setiap kecamatan. Model ini sedang diuji di Kecamatan Sukasari dan Bojongloa Kidul guna memperkuat koordinasi antara dinas, kecamatan, kelurahan, dan masyarakat.
Adhli menekankan, penanganan awal menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak kebakaran. Lima menit pertama merupakan periode krusial yang dapat menentukan apakah api dapat dikendalikan atau justru berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.
“Dalam lima menit awal itu menentukan apakah kebakaran akan membesar dan membahayakan lingkungan ataupun jiwa. Apabila kebakaran bisa diantisipasi atau dilakukan pemadaman dini, dampaknya tentu sangat besar. Lebih baik lagi kalau kebakaran tidak terjadi,” tuturnya.
Untuk memperkuat kebijakan pencegahan, Diskarmatan tengah melakukan penelitian bersama kalangan akademisi dalam menghitung Fire Resilience Index (Firli) atau indeks ketangguhan kebakaran. Dinas juga menyusun rencana induk sistem proteksi kebakaran sebagai landasan pengembangan perlindungan kebakaran di Kota Bandung.
Menurut Adhli, ketangguhan suatu wilayah tidak semata-mata diukur dari ketiadaan kejadian kebakaran, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengurangi risiko dan meminimalkan dampaknya.
Ia pun mengajak warga menjadikan pencegahan sebagai kebiasaan bersama, mulai dari mengenali potensi bahaya, memeriksa peralatan rumah tangga, hingga mengetahui cara melaporkan kejadian kepada petugas.
“Mari kita mulai membiasakan diri menjadikan budaya pencegahan sebagai kebiasaan baru di masyarakat. Kenali risiko yang berpotensi menjadi kebakaran, bagaimana mencegahnya, bagaimana memeriksanya, dan bagaimana melaporkannya kepada dinas,” kata Adhli.
Melalui keterlibatan masyarakat, penguatan relawan, dan peningkatan sistem proteksi, Diskarmatan berharap upaya pencegahan kebakaran di Kota Bandung semakin efektif. Sebab, keberhasilan penanggulangan kebakaran bukan hanya tentang memadamkan api, melainkan juga mencegahnya sebelum menimbulkan kerugian dan mengancam keselamatan jiwa.
Sumber: Diskominfo Kota Bandung
0 Komentar